Merawat Denyut Jamu

Salah satu sumber paling awal yang diasosiasikan dengan Jamu ditemukan di relief
Karmawibhangga panel 19, di Candi Borobudur, yang berasal dari abad ke 8 Masehi
(Kasiyati, 2008). Relief tersebut menggambarkan seorang yang tengah sakit dan dikelilingi
oleh orang-orang yang berusaha menyembuhkannya. Beberapa terlihat memijat dada,
sementara yang lain memijat kepala. Salah satu di antaranya membawa sebuah tembikar
yang diyakini berisi ramuan jamu. Di panel selanjutnya terdapat gambar perayaan
kesembuhan seseorang.

Selain data artefaktual, catatan tentang jamu juga dapat ditemukan di beberapa
kitab yang tersimpan di keraton Yogyakarta dan Surakarta, seperti kitab Usada, Serat
Kawruh bab Jampi-jampi, dan Serat Centhini (Beers, 2001). Kitab lain yang juga mencatat
tentang jamu adalah Serat Racikan Boreh Wulang nDalem yang berisi ramuan khusus
anggota kerajaan.

Di antara kitab-kitab tersebut, Serat Centhini, yang ditulis pada masa Pakubuwono IV
(1788-1820), dianggap sebagai salah satu ensiklopedia jamu paling lengkap. Setidaknya,
dalam kitab tersebut teridentifikasi 1734 resep jamu di dalamnya (Anton & Antons-Sutanto,
2009). Jamu sendiri memiliki beragam bentuk, mulai dari minuman, serbuk, pil, salep,
pijatan, hingga losion (Beers, 2001). Pada masa klasik, tradisi peracikan jamu menjadi bagian
integral kehidupan istana. Para putri keraton dikenal merawat kesehatan dan kecantikan
mereka menggunakan jamu.

Selengkapnya baca tulisan kami di https://www.researchgate.net/publication/400934260_Merawat_Denyut_Jamu

Share your love
gatarafoundation@gmail.com

gatarafoundation@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *