Hari itu, 9 Juli 2021, merupakan hari istimewa bagi masyarakat empat desa, yaitu Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan, dan sebagian Desa Gamping yang berada di Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sedari pagi, masyarakat empat desa tersebut telah bersiap di Telaga Buret, Desa Sawo. Telaga yang biasanya sunyi, pagi itu ramai. Karpet berbagai warna ditebar rapi, tenda tarup juga telah berdiri. Di beberapa titik, terpampang hiasan dari janur berbagai bentuk yang mempercantik suasana. Sejumlah peralatan ritual juga siap sedia di bibir telaga yang menjadi sumber mata air empat desa tersebut.
Sekitar pukul tujuh pagi, satu per satu masyarakat yang digawangi oleh Paguyuban Sendang Tirto Mulyo tiba di telaga. Dengan beskap dan kebaya lengkap, para peserta berjalan perlahan ke lokasi ritual. Suara gamelan yang bertalu-talu menuntun langkah mereka menuju lokasi ritual. Setelah beberapa sambutan, sesi inti ritual diambil alih oleh para sesepuh. Bahasa-bahasa tua seketika mengalir memenuhi area telaga. Semua orang, termasuk saya yang tidak mengerti sebagian besar arti kata-kata, larut dalam suasana sunyi dan khusyuk.
Asap yang menebal dari dupa yang terus dibakar menambah sakral suasana pagi itu. Saya serasa dibawa masuk ke dimensi lain. Kalimat-kalimat asing yang berpadu dengan wangi aroma dupa, serta suasana telaga yang dikepung oleh tetumbuhan raksasa membawa saya sejenak lupa akan eksistensi saya sebagai peneliti. Saya hanyut menikmati pusaran budaya yang jarang saya temui itu. Pagi itu, lewat ritual tahunan tersebut, masyarakat seolah memasuki lorong waktu. Ritual membuat masa lalu begitu dekat. Mereka mempraktikkan ritual Ulur-ulur yang telah dijalani oleh nenek moyang mereka sejak puluhan hingga ratusan tahun yang lalu.
Selengkapnya baca tulisan kami di: https://www.researchgate.net/publication/368364998_Merawat_Ritual_Ulur-Ulur_Merawat_Kehidupan




